Pusat Pembangunan Pondok Berhad

Pondok Studies Development Centre

Archive for the ‘Klinik Agama’ Category

Jawapan Prof Dr As Sayyid Muhammad Al Maliki tentang Maulidurrasul s.a.w

Posted by epondok di Disember 22, 2015

http://madinatulilmi.com

Pada bulan Rabiul Awwal ini kita menyaksikan di belahan dunia islam, kaum muslimin merayakan Maulid, Kelahiran Nabi Muhammad Saw dengan cara dan adat yang mungkin beraneka ragam dan berbeda-beda. Tetapi tetap pada satu tujuan, yaitu memperingati kelahiran Nabi mereka dan menunjukkan rasa suka cita dan bergembira dengan kelahiran beliau Saw. Tak terkecuali di negara kita Indonesia, di kota maupun di desa masyarakat begitu antusias melakukan perayaan tersebut.

Demikian pemandangan yang kita saksikan setiap datang bulan Rabiul awwal.
Telah ratusan tahun kaum muslimin merayakan maulid Nabi Saw, Insan yang paling mereka cintai. Tetapi hingga kini masih ada saja orang yang menolaknya dengan berbagai hujjah. Diantaranya mereka mengatakan, orang-orang yang mengadakan peringatan Maulid Nabi menjadikannya sebagai ‘Id (Hari Raya) yang syar’i, seperti ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha. Padahal, peringatan itu, menurut mereka, bukanlah sesuatu yang berasal dari ajaran agama. Benarkah demikian? Apakah yang mereka katakan itu sesuai dengan prinsip-prinsip agama, ataukah justru sebaliknya?

Di antara ulama kenamaan di dunia yang banyak menjawab persoalan-persoalan seperti itu, yang banyak dituduhkan kepada kaum Ahlussunnah wal Jama’ah, adalah As Sayyid Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Alawi Al Maliki. Berikut ini kami nukilkan uraian dan ulasan beliau mengenai hal tersebut sebagaimana termaktub dalam kitab beliau Dzikrayat wa Munasabat dan Haul al Ihtifal bi Dzikra Maulid An Nabawi Asy Syarif.

Hari Maulid Nabi SAW lebih besar, lebih agung, dan lebih mulia daripada ‘Id. ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha hanya berlangsung sekali dalam setahun, sedangkan peringatan Maulid Nabi SAW, mengingat beliau dan sirahnya, harus berlangsung terus, tidak terkait dengan waktu dan tempat.

Hari kelahiran beliau lebih agung daripada ‘Id, meskipun kita tidak menamainya ‘Id. Mengapa? Karena beliaulah yang membawa ‘Id dan berbagai kegembiraan yang ada di dalamnya. Karena beliau pula, kita memiliki hari-hari lain yang agung dalam Islam. Jika tidak ada kelahiran beliau, tidak ada bi’tsah (dibangkitkannya beliau sebagai rasul), Nuzulul Quran (turunnya AI-Quran), Isra Mi’raj, hijrah, kemenangan dalam Perang Badar, dan Fath Makkah (Penaklukan Makkah), karena semua itu berhubungan dengan beliau dan dengan kelahiran beliau, yang merupakan sumber dari kebaikan-kebaikan yang besar.

Banyak dalil yang menunjukkan bolehnya memperingati Maulid yang mulia ini dan berkumpul dalam acara tersebut, di antaranya yang disebutkan oleh Prof. DR. As Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki. Sebelum mengemukakan dalil-dalil tersebut, beliau menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan peringatan Maulid.

Pertama, kita memperingati Maulid Nabi SAW bukan hanya tepat pada hari kelahirannya, melainkan selalu dan selamanya, di setiap waktu dan setiap kesempatan ketika kita mendapatkan kegembiraan, terlebih lagi pada bulan kelahiran beliau, yaitu Rabi’ul Awwal, dan pada hari kelahiran beliau, hari Senin. Tidak layak seorang yang berakal bertanya, “Mengapa kalian memperingatinya?” Karena, seolah-olah ia bertanya, “Mengapa kalian bergembira dengan adanya Nabi SAW?”.
Apakah sah bila pertanyaan ini timbul dari seorang muslim yang mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah? Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang bodoh dan tidak membutuhkan jawaban. Seandainya pun saya, misalnya, harus menjawab, cukuplah saya menjawabnya demikian, “Saya memperingatinya karena saya gembira dan bahagia dengan beliau, saya gembira dengan beliau karena saya mencintainya, dan saya mencintainya karena saya seorang mukmin”.

Kedua, yang kita maksud dengan peringatan Maulid adalah berkumpul untuk mendengarkan sirah beliau dan mendengarkan pujian-pujian tentang diri beliau, juga memberi makan orangorang yang hadir, memuliakan orangorang fakir dan orang-orang yang membutuhkan, serta menggembirakan hati orang-orang yang mencintai beliau.

Ketiga, kita tidak mengatakan bahwa peringatan Maulid itu dilakukan pada malam tertentu dan dengan cara tertentu yang dinyatakan oleh nash-nash syariat secara jelas, sebagaimana halnya shalat, puasa, dan ibadah yang lain. Tidak demikian. Peringatan Maulid tidak seperti shalat, puasa, dan ibadah. Tetapi juga tidak ada dalil yang melarang peringatan ini, karena berkumpul untuk mengingat Allah dan Rasul-Nya serta hal-hal lain yang baik adalah sesuatu yang harus diberi perhatian semampu kita, terutama pada bulan Maulid.

Keempat, berkumpulnya orang untuk memperingati acara ini adalah sarana terbesar untuk dakwah, dan merupakan kesempatan yang sangat berharga yang tak boleh dilewatkan. Bahkan, para dai dan ulama wajib mengingatkan umat tentang Nabi, baik akhlaqnya, hal ihwalnya, sirahnya, muamalahnya, maupun ibadahnya, di samping menasihati mereka menuju kebaikan dan kebahagiaan serta memperingatkan mereka dari bala, bid’ah, keburukan, dan fitnah.

Yang pertama merayakan Maulid Nabi SAW adalah shahibul Maulid sendiri, yaitu Nabi SAW, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan Muslim bahwa, ketika ditanya mengapa berpuasa di hari Senin, beliau menjawab, “Itu adalah hari kelahiranku.” Ini nash yang paling nyata yang menunjukkan bahwa memperingati Maulid Nabi adalah sesuatu yang dibolehkan syara’.

Dalil-dalil Maulid

Banyak dalil yang bisa kita jadikan sebagai dasar diperbolehkannya memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW .

Pertama, peringatan Maulid Nabi SAW adalah ungkapan kegembiraan dan kesenangan dengan beliau. Bahkan orang kafir saja mendapatkan manfaat dengan kegembiraan itu (Ketika Tsuwaibah, budak perempuan Abu Lahab, paman Nabi, menyampaikan berita gembira tentang kelahiran sang Cahaya Alam Semesta itu, Abu Lahab pun memerdekakannya. Sebagai tanda suka cita. Dan karena kegembiraannya, kelak di alam baqa’ siksa atas dirinya diringankan setiap hari Senin tiba. Demikianlah rahmat Allah terhadap siapa pun yang bergembira atas kelahiran Nabi, termasuk juga terhadap orang kafir sekalipun. Maka jika kepada seorang yang kafir pun Allah merahmati, karena kegembiraannya atas kelahiran sang Nabi, bagaimanakah kiranya anugerah Allah bagi umatnya, yang iman selalu ada di hatinya?)

Kedua, beliau sendiri mengagungkan hari kelahirannya dan bersyukur kepada Allah pada hari itu atas nikmatNya yang terbesar kepadanya.

Ketiga, gembira dengan Rasulullah SAW adalah perintah AI-Quran. Allah SWT berfirman, “Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira’.” (QS Yunus: 58). Jadi, Allah SWT menyuruh kita untuk bergembira dengan rahmat-Nya, sedangkan Nabi SAW merupakan rahmat yang terbesar, sebagaimana tersebut dalam Al-Quran, “Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiya’: 107).

Keempat, Nabi SAW memperhatikan kaitan antara waktu dan kejadian-kejadian keagamaan yang besar yang telah lewat. Apabila datang waktu ketika peristiwa itu terjadi, itu merupakan kesempatan untuk mengingatnya dan mengagungkan harinya.

Kelima, peringatan Maulid Nabi SAW mendorong orang untuk membaca shalawat, dan shalawat itu diperintahkan oleh Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam sejahtera kepadanya.” (QS Al-Ahzab: 56).
Apa saja yang mendorong orang untuk melakukan sesuatu yang dituntut oleh syara’, berarti hal itu juga dituntut oleh syara’. Berapa banyak manfaat dan anugerah yang diperoleh dengan membacakan salam kepadanya.

Keenam, dalam peringatan Maulid disebut tentang kelahiran beliau, mukjizat-mukjizatnya, sirahnya, dan pengenalan tentang pribadi beliau. Bukankah kita diperintahkan untuk mengenalnya serta dituntut untuk meneladaninya, mengikuti perbuatannya, dan mengimani mukjizatnya. Kitab-kitab Maulid menyampaikan semuanya dengan lengkap.

Ketujuh, peringatan Maulid merupakan ungkapan membalas jasa beliau dengan menunaikan sebagian kewajiban kita kepada beliau dengan menjelaskan sifat-sifatnya yang sempurna dan akhlaqnya yang utama.
Dulu, di masa Nabi, para penyair datang kepada beliau melantunkan qashidah-qashidah yang memujinya. Nabi ridha (senang) dengan apa yang mereka lakukan dan memberikan balasan kepada mereka dengan kebaikan-kebaikan. Jika beliau ridha dengan orang yang memujinya, bagaimana beliau tidak ridha dengan orang yang mengumpulkan keterangan tentang perangai-perangai beliau yang mulia. Hal itu juga mendekatkan diri kita kepada beliau, yakni dengan manarik kecintaannya dan keridhaannya.

Kedelapan, mengenal perangai beliau, mukjizat-mukjizatnya, dan irhash-nya (kejadian-kejadian luar biasa yang Allah berikan pada diri seorang rasul sebelum diangkat menjadi rasul), menimbulkan iman yang sempurna kepadanya dan menambah kecintaan terhadapnya.
Manusia itu diciptakan menyukai hal-hal yang indah, balk fisik (tubuh) maupun akhlaq, ilmu maupun amal, keadaan maupun keyakinan. Dalam hal ini tidak ada yang lebih indah, lebih sempurna, dan lebih utama dibandingkan akhlaq dan perangai Nabi. Menambah kecintaan dan menyempurnakan iman adalah dua hal yang dituntut oleh syara’. Maka, apa saja yang memunculkannya juga merupakan tuntutan agama.

Kesembilan, mengagungkan Nabi SAW itu disyariatkan. Dan bahagia dengan hari kelahiran beliau dengan menampakkan kegembiraan, membuat jamuan, berkumpul untuk mengingat beliau, serta memuliakan orang-orang fakir, adalah tampilan pengagungan, kegembiraan, dan rasa syukur yang paling nyata.

Kesepuluh, dalam ucapan Nabi SAW tentang keutamaan hari Jum’at, disebutkan bahwa salah satu di antaranya adalah, “Pada hari itu Adam diciptakan:” Hal itu menunjukkan dimuliakannya waktu ketika seorang nabi dilahirkan. Maka bagaimana dengan hari di lahirkannya nabi yang paling utama dan rasul yang paling mulla?

Kesebelas, peringatan Maulid adalah perkara yang dipandang bagus oleh para ulama dan kaum muslimin di semua negeri dan telah dilakukan di semua tempat. Karena itu, ia dituntut oleh syara’, berdasarkan qaidah yang diambil dari hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud, “Apa yang dipandang balk oleh kaum muslimin, ia pun balk di sisi Allah; dan apa yang dipandang buruk oleh kaum muslimin, ia pun buruk di sisi Allah.”

Kedua belas, dalam peringatan Maulid tercakup berkumpulnya umat, dzikir, sedekah, dan pengagungan kepada Nabi SAW. Semua itu hal-hal yang dituntut oleh syara’ dan terpuji.

Ketiga belas, Allah SWT berfirman, “Dan semua kisah dari rasul-rasul, Kami
ceritakan kepadamu, yang dengannya Kami teguhkan hatimu:’ (QS Hud: 120). Dari ayat ini nyatalah bahwa hikmah dikisahkannya para rasul adalah untuk meneguhkan hati Nabi. Tidak diragukan lagi bahwa saat ini kita pun butuh untuk meneguhkan hati kita dengan berita-berita tentang beliau, lebih dari kebutuhan beliau akan kisah para nabi sebelumnya.

Keempat belas, tidak semua yang tidak pernah dilakukan para salaf dan tidak ada di awal Islam berarti bid’ah yang munkar dan buruk, yang haram untuk dilakukan dan wajib untuk ditentang. Melainkan apa yang “baru” itu (yang belum pernah dilakukan) harus dinilai berdasarkan dalii-dalil syara’.

Kelima belas, tidak semua bid’ah itu diharamkan. Jika haram, niscaya haramlah pengumpulan Al-Quran, yang dilakukan Abu Bakar, Umar, dan Zaid, dan penulisannya di mushaf-mushaf karena khawatir hilang dengan wafatnya para sahabat yang hafal Al-Quran. Haram pula apa yang dilakukan Umar ketika mengumpulkan orang untuk mengikuti seorang imam ketika melakukan shalat Tarawih, padahal ia mengatakan, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” Banyak lagi perbuatan baik yang sangat dibutuhkan umat akan dikatakan bid’ah yang haram apabila semua bid’ah itu diharamkan.

Keenam belas, peringatan Maulid Nabi, meskipun tidak ada di zaman Rasulullah SAW, sehingga merupakan bid’ah, adalah bid’ah hasanah (bid’ah yang balk), karena ia tercakup di dalam dalil-dalil syara’ dan kaidah-kaidah kulliyyah (yang bersifat global).
Jadi, peringatan Maulid itu bid’ah jika kita hanya memandang bentuknya, bukan perinaan-perinaan amalan yang terdapat di dalamnya (sebagaimana terdapat dalam dalil kedua belas), karena amalan-amalan itu juga ada di masa Nabi.

Ketujuh belas, semua yang tidak ada pada awal masa Islam dalam bentuknya tetapi perincian-perincian amalnya ada, juga dituntut oleh syara’. Karena, apa yang tersusun dari hal-hal yang berasal dari syara’, pun dituntut oleh syara’.

Kedelapan belas, Imam Asy-Syafi’i mengatakan, “Apa-apa yang baru (yang belum ada atau dilakukan di masa Nabi SAW) dan bertentangan dengan Kitabullah, sunnah, ijmak, atau sumber lain yang dijadikan pegangan, adalah bid’ah yang sesat. Adapun suatu kebaikan yang baru dan tidak bertentangan dengan yang tersebut itu, adalah terpuji “

Kesembilan belas, setiap kebaikan yang tercakup dalam dalil-dalil syar’i dan tidak dimaksudkan untuk menyalahi syariat dan tidak pula mengandung suatu kemunkaran, itu termasuk ajaran agama.

Keduapuluh, memperingati Maulid Nabi SAW berarti menghidupkan ingatan (kenangan) tentang Rasulullah, dan itu menurut kita disyariatkan dalam Islam. Sebagaimana yang Anda lihat, sebagian besar amaliah haji pun menghidupkan ingatan tentang peristiwa-peristiwa terpuji yang telah lalu.

Kedua puluh satu, semua yang disebutkan sebelumnya tentang dibolehkannya secara syariat peringatan Maulid Nab! SAW hanyalah pada peringatan-peringatan yang tidak disertai perbuatan-perbuatan munkar yang tercela, yang wajib ditentang.

Adapun jika peringatan Maulid mengandung hal-hal yang disertai sesuatu yang wajib diingkari, seperti bercampurnya laki-laki dan perempuan, dilakukannya perbuatanperbuatan yang terlarang, dan banyaknya pemborosan dan perbuatan-perbuatan lain yang tidak diridhai Shahibul Maulid, tak diragukan lagi bahwa itu diharamkan. Tetapi keharamannya itu bukan pada peringatan Maulidnya itu sendiri, melainkan pada hal-hal yang terlarang tersebut

Posted in Fokus Isu, Klinik Agama | 1 Comment »

Melantik wakil untuk ibadat korban

Posted by epondok di September 24, 2015

Petikah : almalakawi.wordpress.com/

Apabila seorang itu dilantik menguruskan qurban maka dia menjadi wakil kepada orang yang buat qurban, maka sepatutnya pekara di bawah ini hendaklah diketahwi oleh orang yang menguruskannya supaya memudahkan urusan.

Terkadang orang yang buat qurban hanya melantik wakil untuk menyembelih sahaja, tidak yang lain maka wakil tidak boleh melakukan perkara yang lain daripada yang disuruh.

Di sini saya nasihatkan kepada orang yang berkongsi/bersekutu tujuh orang supaya melantik seorang dari kalangan mereka atau orang lain menguruskan qurbam mereka dari segi pembelian lembu, mencari tukang sembelih, meniatkan qurban dan membahgikan daging, pengurus ini adalah wakil bagi mereka.

Adakah pengurus ini boleh melantik orang lain untuk melakukan apa yang diwakilkan kepadanya? Di bawah ini saya nyatakan hukumnya.

Hukum wakil melantik wakil yang kedua

*Wakil melantik orang lain mengantikan tempatnya ada beberapa keadaan:

1. Tidak harus wakil melantik orang lain menjadi waki mengantikan tempatnya selagi wakil itu dapat melakukan dengan sendiri pekara yang diwakilkan kepadanya.

2. Harus wakil melantik orang lain menjadi waki yang kedua dengan izin daripada orang yang berwakil.

3. Harus wakil melantik orang lain menjadi wakil yang kedua denga tiada izin daripada orang yang berwakil jika pekara yang diwakilkan itu tidak dapat dikerjakan oleh wakil dengan sendirinya kerana dia tidak layak dengan perkerjaan itu, dia tidak dapat mengerjakannya dengan baik atau dia lemah hendak mengerjakannya sekira-kira jika dia mengerjakkannya, nescaya dia akan mengerjakannya dengan kepayahan yang bersangatan.

*Wakil yang kedua yang dilantik oleh wakil pertama  adalah menjadi wakil bagi orang yang berwakil dan dia bukan wakil bagi wakil pertama melainkan orang yang berwakil berkata kepada wakil yang pertama “lantik lah wakil bagi diri kamu” maka setelah dia melantik wakil kedua, wakil kedua itu hukumnya menjadi wakil bagi wakil yang pertama.

*Sekiranya orang yang berwakil menyuruh melantik wakil bagi pihak orang yang berwakil maka wakil yang kedua itu adalah wakil bagi orang yang berwakil bukan wakil bagi wakil pertama.

Pemecatan wakil kedua

*Wakil kedua yang menjadi wakil bagi orang yang berwakil hanya terpecat sebagai wakil apabila di pecat oleh orang yang berwakil.

*Wakil pertam tidak boleh memecat wakil yang kedua yang dia lantik untuk orang yang berwakil.

*Wakil pertama dan orang yang berwakil boleh memecat wakil kedua yang dilantik bagi pihak wakil pertama.

Peringatan kepada orang yang berwakil

Saya cadangkan kepada yang berwakil supaya menyatakan apayang hendak diwakilkan dengan jelas, terutama kepada mereka yang berkogsi tujuh orang.

Perkara yang perlu dinyatakan adalah:

*Wakil sembelih sahaja.

*Wakil niat sahaja tidak sembelih.

*Wakil sembelih dan niat.

*Wakil membeli binatang yang hendak dibuat qurban sahaja.

*Wakil membahagi daging qurban sahaja.

*Wakil pengurusan iaitu mengurus segala urusan qurban dari membeli, mewakilkan orang lain untuk menyembelih, niat dan membahagi daging. والله اعلم

Posted in Klinik Agama | Leave a Comment »

Edah perempuan kematian suami

Posted by epondok di September 4, 2015

Oleh Shukri Yusof

 

FIRMAN Allah SWT yang bermaksud: “Dan orang yang meninggal dunia di antara kamu, sedang mereka meninggalkan isteri hendaklah isteri itu menahan diri mereka (beredah) selama empat bulan 10 hari. Kemudian apabila telah habis masa edahnya itu maka tidak ada salahnya bagi kamu mengenai apa yang dilakukan mereka pada dirinya menurut cara yang baik (yang diluluskan oleh syarak). Dan (ingatlah) Allah sentiasa mengetahui dengan mendalam akan apa juga yang kamu lakukan.” (Surah al-Baqarah, ayat 234)
Pada zaman jahiliah, wanita sering berkabung dengan cara yang sangat buruk dan tercela jika kematian suami. Selama setahun mereka tidak menyentuh wangi-wangian, berdandan dan bercampur gaul dengan masyarakat. Selepas tempoh itu, barulah mereka keluar rumah. Setelah kedatangan Islam, keadaan itu diperbaiki di mana masa edah ditetapkan hanya satu pertiga daripada yang diamalkan pada zaman jahiliah sementara isteri yang kematian suami hendaklah menyempurnakan tiga perkara iaitu edah, ihdad dan menetap di rumah suami.
Tempoh edah kematian suami
Perempuan yang kematian suami hendaklah menjalani tempoh edah empat bulan 10 hari. Ayat berkenaan menjelaskan kewajipan itu termaktub kepada perempuan tua atau muda, telah disetubuhi atau belum disetubuhi oleh suaminya. Beberapa hadis lain juga menetapkan tempoh edah bagi perempuan ialah empat bulan 10 hari. Antaranya hadis yang panjang daripada Zainab puteri Ummu Salamah yang menceritakan, “Aku masuk menemui Zainab binti Jahsh ketika saudaranya meninggal dunia, kemudian dia meminta wangi-wangian lalu dia menyentuhnya, kemudian berkata: Aku tidak memerlukan wangi-wangian ini, bagaimanapun aku dengar Rasulullah SAW bersabda ketika di atas mimbar: Tidak harus berkabung bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhirat melebihi tiga hari kecuali terhadap suaminya yang diwajibkan selama empat bulan 10 hari.” (Riwayat al-Bukhari)
Jika isteri itu mengandung, maka edahnya menurut jumhur ulama ialah setelah melahirkan kandungannya, sekalipun satu saat selepas kematian suaminya. Elak percampuran benih Hikmah pensyariatan edah kepada wanita adalah bagi memastikan rahim perempuan kosong daripada benih suami yang menceraikannya atau yang sudah meninggal dunia. Ini mengelak terjadi percampuran benih antara suaminya dahulu dan suami yang baharu jika dia berkahwin sebelum tempoh edah selesai. Ia juga bagi memberi ruang kepada suami isteri untuk berfikir mengenai tindakan yang sudah dibuat dan peluang kepada kedua-duanya kembali bersatu, khusus untuk edah talak raj’ie.
Perempuan yang kematian suami, selain memastikan rahimnya kosong daripada benih suami, edah juga adalah tempoh ihdad (berkabung) kerana kepergian suami untuk selama-lamanya. Ini sebagai tanda menjaga hak suami dan menyatakan kesetiaan isteri kepada suaminya. Hikmah edah juga untuk menunjukkan perkahwinan tidak sempurna tanpa pemantapan jiwa suami isteri bagi mengukuhkan ikatan perkahwinan. Jika berlaku sesuatu yang membawa kepada terlerainya ikatan perkahwinan, maka hendaklah diberi masa secukupnya supaya tidak berat untuk menghadapi situasi itu.
Ihdad dari segi bahasa bermaksud tegahan atau larangan kerana perempuan berihdad ditegah daripada berhias dan berwangi-wangian. Menurut pengertian syarak, ihdad bermaksud meninggalkan berwangi-wangian dan berhias. Perempuan yang kematian suami diwajibkan ihdad (berkabung) empat bulan 10 hari jika dia tidak hamil. Jika hamil, maka wajib ihdad sehingga dia melahirkan anak. Kewajipan ihdad dan larangan yang terdapat padanya disebutkan dalam hadis daripada Ummu ‘Athiyyah, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak berkabung seorang perempuan ke atas orang yang meninggal dunia lebih daripada tiga hari kecuali ke atas suaminya, (dia berkabung) empat bulan 10 hari, dan dia dilarang memakai pakaian yang dicelupkan warna kecuali pakaian yang sederhana dan dilarang memakai celak mata dan memakai wangian kecuali untuk bersuci (selepas membersihkan darah haid), iaitu diusap sedikit sahaja daripada haruman atau wangian.” (Riwayat Muslim)
Boleh tinggal di rumah suami
Menghabiskan tempoh edah di rumah didiami bersama suami dulu lebih sesuai dengan keadaan perempuan yang sedang berkabung untuk menyelamatkan daripada fitnah. Perempuan diharuskan keluar dengan alasan mendesak seperti ke klinik, membeli barang keperluan atau ke tempat kerja (bagi yang bekerja) Jika tugasnya boleh dilakukan pada siang hari, maka tidak harus baginya memilih untuk bertugas pada waktu malam kerana pada waktu malam boleh menimbulkan pelbagai tuduhan dan fitnah. Larangan itu dalam tempoh edah. Setelah selesai edah, wanita itu boleh menentukan kehidupan yang mematuhi garisan undang-undang Allah SWT serta syariat agama. Dia diharuskan menghiaskan dirinya mengikut syarat dibenarkan kepada wanita Islam, boleh menerima pinangan dan berkahwin dengan sesiapa yang disukainya.

Posted in Klinik Agama | 1 Comment »

Hukum Solat ketika azan

Posted by epondok di September 3, 2015

SEBAGAI Islam, mendirikan solat lima waktu adalah hukum yang wajib dipatuhi oleh setiap Muslim yang beriman.

Solat itu tiang agama. Sejak kecil kita diajar untuk mendirikan solat yang akan menjamin kehidupan kita di akhirat nanti.

Walaupun ada sebilangan kita yang alpa, namun kebanyakan dari kita masih teguh mendirikan amal ibadat, buat bekalan di hari mati esok.

Terdetik penulis untuk mencoretkan tulisan kali ini mengenai khilafnya kita tentang menjaga solat serta hubungan kita dengan ALLAH.

Mungkin sudah ramai yang tahu, namun masih ada yang khilaf tentang hukum-hukum solat ketika mendirikan solat.

Tidak sampai tiga minit menunggu, azan Maghrib mula kedengaran.

Dua wanita di kiri dan kanan penulis tidak menunggu lama. Mereka bangun dan terus solat sebaik sahaja azan kedengaran.

Penulis yang berada di kedudukan di tengah-tengah antara keduanya hanya diam terpaku. Tertanya-tanya sendiri.

Bukankah solat itu sepatutnya didirikan selepas azan berakhir? Dan apa pula hukumnya mendirikan solat ketika azan?

Ketika itu penulis tersedar. Kita masih khilaf dalam menjaga hubungan kita denganNYA.

Sebagai hambaNYA, kita semua selalu mengambil mudah dalam menjaga kejernihan urusan ibadah kita kepadaNYA.

Beberapa hari selepas kejadian tersebut berlaku, penulis mengambil keputusan untuk menghubungi seorang ustaz bagi bertanyakan perihal tersebut.

Dr Mohd Azhar Abdullah namanya.

Beliau yang Timbalan Ketua Eksekutif Bahagian Hal Ehwal Pelajar Kolej Antarabangsa Sultan Ismail Petra, menjawab tenang ketika dihubungi untuk menjawab persoalan tersebut.

Menurutnya, antara syarat sah solat adalah solat yang dilakukan sebaik sahaja masuk waktu solat dan mengerjakan solat ketika azan waktu solat baharu sahaja berkumandang menjadikan solat tersebut sah.

Bagaimanapun mengerjakan solat ketika azan adalah makruh bagi lelaki, manakala wanita pula disunatkan untuk menunggu selesai azan sebelum mengerjakan solat.

“Dari sudut sunnah para sahabat Nabi, solat dilakukan selepas usai azan kedengaran. Mengerjakan solat selepas azan membolehkan kita melakukan beberapa prinsip seperti menjawab azan ketika azan berkumandang dan melakukan solat sunat dua rakaat selepas azan.

“Solat ketika azan adalah makruh bagi lelaki kerana perbuatan tersebut akan menyebabkan ‘tercicirnya’ lelaki tersebut daripada jemaah yang bakal menunaikan solat bersama. Bagi kaum wanita pula, adalah sebaiknya menunggu azan selesai kemudian baharulah solat dikerjakan,” katanya ketika dihubungi Sinar Online, hari ini.

Menurutnya lagi, perbuatan solat ketika azan akan menyebabkan hilangnya kemanisan dalam mengerjakan ibadah tersebut.

“Islam tidak menghalang umatnya bersolat ketika azan masuk waktu, namun ia akan menyebabkan makruh. Makruh itu bermakna kita melakukan perkara-perkara yang ALLAH tidak suka.

“Kita akan hilang kemanisan dalam bersolat (sekiranya bersolat ketika azan masuk waktu masih kedengaran). Kita masih peroleh pahala, tetapi pahala itu tidak cantiklah,” katanya lagi.

Jelas beliau lagi, solat yang didirikan dipenghujung waktu sehingga masuk waktu solat fardhu lain juga masih dikira sah.

“Sebagai contoh, kita solat Asar dihujung waktu, tiba-tiba azan Maghrib kedengaran, maka solat kita perlu diteruskan. Tidak ada sebab untuk menghentikan ibadah.

“Solat masih sah sekurang-kurangnya satu rukuk. Solat di akhir waktu itu (sama ada) qada atau tunai adalah sempat rukuk atau tidak pada rakaat yang pertama, jika ia solat Asar n rukuk dan sempat tama’ ninah seketika dalam rukuk dan tiba-tiba azan maghrib, maka dikira solat asar sebagai tunai, jika tidak sempat rukuk maka dikira qada,” jelasnya.

Posted in Klinik Agama | Leave a Comment »

Syarat fidyah jika tinggalkan puasa

Posted by epondok di Jun 16, 2015

Anan C Mohd
Ibadah niyabah wajib disempurnakan

Fidyah berkait rapat dengan ibadah puasa di mana ada beberapa sebab dalam puasa wajib yang jika ditinggalkan akan dikenakan fidyah iaitu meninggalkan puasa kerana tua atau lanjut usia, sakit kronik berpanjangan dan tiada harapan untuk sembuh. Wanita hamil dan yang menyusukan anak terpaksa meninggalkan puasa serta menangguhkan qada puasa sehingga tiba Ramadan berikutnya.

Fidyah adalah satu bentuk ibadah niyabah (gantian) yang diberi pahala kepada pelakunya. Hukum menyempurnakan ibadah yang tidak sempurna adalah wajib, maka justeru itu hukum fidyah adalah wajib seperti ditentukan syarak.

Fidyah adalah satu bentuk ibadah niyabah (gantian) yang diberi pahala kepada pelakunya. Hukum menyempurnakan ibadah yang tidak sempurna adalah wajib, maka justeru itu hukum fidyah adalah wajib seperti ditentukan syarak.

Firman Allah SWT bermaksud: “…Dan wajib atas orang yang tidak terdaya berpuasa (kerana tua dan sebagainya) membayar fidyah iaitu memberi makan orang miskin. Maka sesiapa yang dengan sukarela memberikan (bayaran fidyah) lebih dari yang ditentukan itu, maka itu adalah suatu kebaikan baginya; dan (walaupun demikian) berpuasa itu lebih baik bagi kamu (daripada memberi fidyah), kalau kamu mengetahui.” (Surah al-Baqarah, ayat 184).

Sabda Rasulullah SAW bermaksud: “Barang siapa yang mati sedangkan dia masih mempunyai puasa Ramadan yang belum diqadanya, hendaklah diberi makan seorang miskin bagi setiap hari ditinggalkan bagi pihaknya.” (Hadis riwayat Imam Tirmizi).

Terdapat beberapa keadaan di mana seseorang itu dikenakan fidyah apabila meninggalkan puasa atau sebaliknya:
Seseorang yang meninggalkan puasa kerana bermusafir atau sakit, maka wajib ke atasnya mengqada’ puasa sebelum datangnya Ramadan tahun berikutnya dan jika dilaksanakan dalam keadaan sedemikian maka tiada dikenakan fidyah.

Seseorang yang menangguhkan qada puasanya sehingga tiba Ramadan berikutnya kerana cuai atau tidak mengambil berat, maka dia dikira berdosa dan diwajibkan membayar fidyah berserta qada puasa mengikut bilangan hari ditinggalkan.

Seseorang sakit berterusan hingga masuk Ramadan yang lain, dia wajib mengqada puasanya saja tanpa dikenakan fidyah.

Sekiranya seseorang itu mati sebelum berkemampuan atau berkesempatan mengqada puasanya bukan disebabkan cuai atau sebagainya, maka dia tidak berdosa dan tidak perlu meminta orang lain mengqada bagi pihaknya serta tidak diwajibkan membayar fidyah bagi puasa ditinggalkannya.

Sesiapa yang mati selepas mampu mengqada puasanya, maka walinya (bapa, datuk atau ahli keluarganya) disunatkan mengqada hari-hari ditinggalkan bagi pihaknya.

Orang lain yang berpuasa bagi pihaknya adalah sah apabila mendapat keizinan salah seorang ahli keluarga terdekatnya. Jika dia berpuasa tanpa mendapat keizinan dan wasiat daripada si mati, maka puasa ganti itu tidak sah.

Jika tiada seorang pun berpuasa bagi pihak si mati, maka hendaklah dikeluarkan satu cupak makanan bagi setiap hari ditinggalkannya. Makanan itu wajib dikeluarkan daripada harta pusaka ditinggalkannya, sama seperti hutang. Sekiranya dia tidak memiliki harta, maka orang lain boleh mengeluarkan bagi pihaknya dan terlepaslah dosanya.

Seseorang meninggalkan puasa kerana tua atau lanjut usia, sekiranya dengan berpuasa akan membawa kesulitan kepadanya, maka wajib membayar fidyah saja berdasarkan kesepakatan ulama.

Seseorang yang tidak berkemampuan untuk berpuasa, sekiranya dia tidak berkemampuan juga untuk membayar fidyah maka tiada apa-apa dikenakan ke atasnya.

Seseorang yang mengalami sakit kronik berpanjangan dan tiada harapan untuk sembuh, maka wajib membayar fidyah dengan kesepakatan ulama, kerana puasa tidak lagi diwajibkan ke atasnya.

Wanita hamil dan wanita yang menyusukan anak, jika meninggalkan puasa kerana bimbangkan keselamatan anaknya, maka wajib membayar fidyah berserta dengan qada puasa mengikut jumhur ulama.

Sebaliknya, jika dia meninggalkan puasa kerana bimbangkan keselamatan dirinya sendiri, maka dia boleh berbuka puasa dan diwajibkan qada’ puasa saja tanpa perlu membayar fidyah.

Menurut pandangan paling sahih dalam Mazhab Syafii, bayaran fidyah berganda dengan bergandanya tahun. Manakala menurut Mazhab Maliki dan Hanbali, bayaran fidyah tidak berganda mengikut tahun kerana ia dikira sekali gus saja.

Bayaran fidyah boleh ditunaikan sepanjang hidup. Namun, lebih baik mempercepatkan pembayarannya sekadar termampu dan seboleh-bolehnya ditunaikan dalam Ramadan kerana pahala pada bulan itu lebih banyak berbanding bulan lain.

Posted in Klinik Agama | Leave a Comment »

Perkahwinan sekufu, antara bahagia atau dilema?

Posted by epondok di Mei 30, 2015

AHMAD NASHRIQ MOHD ASRI

PERKAHWINAN merupakan satu jalinan kasih sayang atau hubungan antara lelaki dan perempuan yang sah di sisi Islam. Perkahwinan juga menjadi satu ibadah dan kewajipan kepada semua umat Islam apabila seseorang itu mampu untuk memikul tanggungjawab sama ada bergelar seorang suami atau isteri.

Apabila seseorang itu sudah berkahwin, maka telah sempurna separuh agamanya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW mafhumnya: Apabila seorang hamba menikah, maka sungguh dia telah menyempurnakan separuh agamanya.

Maka hendaklah dia bertaqwa kepada ALLAH pada separuh yang selebihnya. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi. Hal ini jelas menggambarkan bahawa perkahwinan ini merupakan satu tuntutan kepada umat Islam.

Selari dengan peredaran zaman pada masa kini, perkahwinan sekufu menjadi satu trend dalam menentukan jodoh sama ada bersesuaian dengan kedudukan atau pangkat seseorang.

Sekufu pada amnya hanyalah ungkapan orang tua yang mahu cari persamaan, pasangan yang sepadan dari segi pendidikan ,kecantikan, pangkat, keturunan, agama dan lain-lain. Dalam erti lain kufu bermaksud sama atau setaraf.

Dari sudut istilah pula Kufu bermaksud satu aspek yang ketiadaannya akan mencacatkan kedua mempelai. Aspek kufu dalam mazhab syafei ada enam iaitu, Islam, merdeka, agama, keturunan, kerjaya dan sejahtera dari sebarang kecacatan.

Sebahagian ahli-ahli feqah pada masa kini yang mengikut mazhab Shafei mengambil kira usia juga termasuk ke dalam aspek kufu. Mereka menghukumkan seorang gadis remaja tidak sekufu dengan seorang lelaki tua.

Dalam masa yang sama, Imam Shafei juga menegaskan bahawa perkahwinan mereka yang tidak sekufu tidaklah haram. Oleh sebab itu,sekiranya persetujuan antara pengantin perempuan dan walinya telah dicapai maka perkahwinan itu dihukumkan sah meskipun tidak sekufu antara bakal pengantin.

Selain itu, dalam perkahwinan sekufu juga,faktor pembentukan keluarga memainkan peranan penting dalam agama Islam. Jadi apabila Islam menggalakkan sekufu, ini bermakna Islam melihat lebih jauh lagi mengenai peranan sesuatu keluarga itu.

Ini kerana perbezaan yang terlalu banyak dan ketara di antara pasangan suami dengan isteri dalam pelbagai perkara kemungkinan akan menimbulkan pelbagai masalah untuk meneruskan kehidupan berkeluarga yang akan dibina kelak. Bahkan sekiranya tiada sekufu antara kedua-duanya, maka isteri atau walinya berhak menuntut fasakh selepas perkahwinannya.

Ia berdasarkan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: Tidak berhak mengahwinkan seorang anak perempuan kecuali dengan wali, dan tidak berhak mengahwinkan wanita kecuali dengan lelaki yang sekufu dengannya. Sekiranya seorang lelaki itu mengambil seorang isteri yang lebih rendah pendidikannya atau yang lebih sedikit hartanya dan sebagainya, ia biasanya tidak menimbulkan sebarang masalah kemudian hari.

Berlainan pula seandainya seorang isteri bersuamikan seorang lelaki yang jauh lebih rendah daripadanya dalam semua perkara. Sebagai contoh si suami merupakan seorang pekebun biasa malahan si isteri merupakan seorang doktor perubatan.

Terdapat perbezaan yang begitu ketara antara pasangan tersebut dari sudut pangkat, pendidikan, pendapatan dan selainnya. Hal ini berkemungkinan akan menimbulkan masalah besar seperti si suami akan berasa rendah diri terhadap isteri.

Dalam hal inilah, Islam melihat “kafaah” sebagai satu aspek yang perlu dijaga. Menurut ulama fiqah, keseluruhan mereka mengambil kira kepentingan sekufu, sehingga di dapati mazhab Shafie meletakkan sekufu sebagai hak seorang perempuan dan hak walinya.

Sementara bagi mazhab Hanafi, walaupun tidak ada wali mujbir (wali yang boleh memaksa anaknya untuk berkahwin atau tidak berkahwin, misalnya ayah dan datuk) seorang perempuan itu boleh mengahwinkan dirinya tanpa wali.

Namun wali mujbirnya iaitu bapanya contohnya, masih berhak untuk membubarkan perkahwinan itu sekiranya mendapati pasangan tersebut tidak sekufu. Sebagaimana dijelaskan di atas bahawa sekufu merupakan hak kepada wanita dan walinya, maka sekiranya salah seorang daripada orang yang berhak ini menghalang perkahwinan disebabkan tidak sekufu, maka perkahwinan itu tidak boleh dilangsungkan.

Contohnya, seorang perempuan membawa calon suaminya tetapi tidak dipersetujui oleh bapanya sebagai seorang wali mujbir dengan alasan lelaki tersebut tidak sekufu dengan anaknya, maka alasan itu dianggap munasabah dan hak bapanya sebagai wali tidak boleh dipindahkan kepada wali hakim atau wali selepasnya.

Begitu juga sekiranya seorang perempuan yang dipaksa berkahwin oleh wali mujbirnya, sama ada bapa ataupun datuk tetapi dia menolak dengan alasan bahawa perkahwinan ini tidak sekufu, maka dia berhak untuk menghalang perkahwinan ini.

Jelas di sini, mazhab Shafei meletakkan sekufu sebagai satu perkara yang penting. Jumhur mengatakan, sekufu adalah syarat untuk meneruskan perkahwinan, bukannya syarat sah perkahwinan.

Posted in Klinik Agama | Leave a Comment »

Penentuan arah kiblat guna matahari

Posted by epondok di Mei 25, 2015

Oleh Hazirah Che Sab


Kaedah melihat matahari terbenam tidak tepat

SUDAH semestinya umat Islam perlu menghadap Kaabah yang menjadi kiblat apabila mendirikan solat dan ketika dikebumikan selepas meninggal dunia.

Walaupun dengan kedudukan Kaabah di Makkah menjangkau ratusan ribu kilometer, menetapkan arah kiblat sebenarnya tidak menjadi persoalan kerana ilmuwan Islam benar-benar menguasai ilmu falak untuk menyelesaikan masalah itu sekadar berpandukan kedudukan cakerawala seperti bintang dan matahari.

Bagaimanapun, kekurangan orang Islam yang benar-benar memahami ilmu falak ketika ini menimbulkan persoalan bagaimana untuk menentukan arah kiblat yang tepat.

Ini kerana, ada umat Islam masih menggunakan kaedah menentukan kiblat berpandukan arah matahari terbenam, sedangkan cara itu tidak tepat dan salah di sisi Islam kerana hanya dua hari dalam setahun arah kiblat boleh berpandukan kepada arah matahari terbenam.

Menyedari kesilapan itu, sewajarnya umat Islam di seluruh dunia tidak lagi menentukan jadual atau takwim solat, waktu berbuka puasa dan hari raya berpandukan kaedah matahari terbenam. Malaysia sudah tidak lagi menggunakan kaedah ini, sebaliknya berpandukan ilmu falak syarie seperti yang ditetapkan Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim).

Arah kiblat menggunakan matahari boleh diukur dua kali setahun.

Dengan kepesatan teknologi, perkara sebegini tidak sepatutnya menjadi masalah sehingga membawa kepada timbulnya pertelingkahan kerana sudah ada pelbagai peralatan canggih yang boleh digunakan untuk menentukan arah kiblat.

Ketua Penolong Pengarah Cawangan Falak, Bahagian Penyelidikan Jakim, Che Alias Che Ismail, berkata penentuan arah kiblat yang tepat amat penting terutama dalam pembinaan masjid atau surau bagi memastikan ia tidak tersasar.

Beliau menegaskan, ketepatan arah kiblat bukan sesuatu yang boleh dipandang ringan kerana biarpun cuma satu darjah terpesong ia bersamaan kira-kira 125 kilometer tersasar dari arah Kaabah.

Bagaimanapun, muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan memutuskan had berpaling yang dibenarkan tidak melebihi tiga darjah dan ia tidak perlu difatwakan tetapi boleh dijadikan garis panduan dalam pembinaan masjid dan surau baru.

Che Alias menunjukkan cara untuk mencari kiblat dengan menggunakan Ushikata.

Katanya, dua alat digunakan untuk menentukan arah kiblat iaitu kompas Ushikata dan Teodolite tetapi ia juga berpandukan kepada keadaan tertentu seperti diletakkan di tanah rata untuk mendapatkan ukuran tepat.

“Peralatan itu selalunya digunakan untuk menentu arah kiblat untuk tujuan pembinaan masjid atau surau. Bagi orang perseorangan atau ingin menentukan arah kiblat di rumah, cara tradisional masih boleh digunakan.

“Setiap tahun, ada dua keadaan yang boleh digunakan umat Islam menentukan arah kiblat iaitu ketika matahari berada betul-betul di atas Kaabah. Ia berlaku pada 28 Mei jam 5.16 petang dan sekali lagi pada 17 Julai jam 5.28 petang.

“Caranya dengan meletakkan tiang atau sesuatu yang lurus di tanah lapang pada waktu berkenaan dan perhatikan bayang objek itu. Oleh kerana di Malaysia ia berlaku pada waktu petang, arah kiblat diukur dari hujung bayang hingga ke pangkal tiang ,” katanya.

Sementara itu, Penolong Pengarah Pusat Al-Quran dan Ilmu Teras di Institut Latihan Islam Malaysia (ILIM), Zamihan Mat Zin, berkata falak ialah disiplin ilmu astronomi Islam yang dibahagikan kepada tiga bahagian iaitu falak takwim membabitkan pengiraan hari, bulan bagi menentukan puasa dan hari raya.

“Kedua ialah falak waktu solat iaitu menentukan masuknya waktu solat berdasarkan kedudukan matahari dan ketiga, yang paling besar dan penting falak penentuan arah kiblat.

“Arah kiblat diukur menggunakan kompas Ushikata atau Teodolite. Caranya tidak banyak berbeza tetapi penggunaan Teodolite lebih tepat kerana kadang-kadang bacaan kompas dipengaruhi unsur lain seperti besi dan sebagainya,” katanya.

Zamihan berkata, cara tradisi masih boleh digunakan untuk menentukan arah kiblat dengan berpandukan arah matahari yang membabitkan dua hitungan.

“Pertama, berdasarkan kedudukan matahari di atas Kaabah yang berlaku pada Mei dan Julai setiap tahun. Seluruh dunia boleh menyemak kedudukan kiblat berdasarkan fenomena itu.

“Cara kedua ialah dengan menghitung waktu matahari setiap hari. Kaedah kedua banyak risiko kerana kedudukan matahari berubah setiap hari terutama di kalangan mereka yang tidak mahir dalam ilmu falak. Cuma pakar falak yang dapat berbuat demikian kerana ia membabitkan kaedah separa hitungan,” katanya.

Beliau berkata, masalah yang timbul sekarang ialah umat Islam tidak menguasai ilmu falak sepenuhnya dan pada masa sama masih tidak terlatih menggunakan teknologi moden.

“Justeru, ILIM berperanan melatih pegawai Islam untuk menggunakan alat ukur ini dengan mahir dan menjemput pakar dari universiti tempatan bagi tujuan itu,” katanya.

Penentuan arah kiblat boleh dicari dari pelbagai sudut dalam kehidupan serba canggih ini dan ia bergantung kepada ‘mahu atau tidak’ berusaha mencari ketepatan yang menjadi syarat sah solat, seterusnya membentuk peribadi menjadi Muslim sejati.

Rujuk Jabatan Mufti untuk panduan

SELANGOR mendahului negeri lain dalam memastikan setiap bangunan mengandungi surau atau ruang solat yang bakal didirikan mempunyai arah kiblat betul menerusi jalinan kerjasama dengan pihak berkuasa tempatan (PBT) dan kontraktor.

Pegawai Hal Ehwal Islam, Bahagian Falak Jabatan Mufti Negeri Selangor, Rizal Ramli, berkata pihaknya mengambil tindakan pencegahan dengan mencadangkan kepada PBT di seluruh negeri supaya meletakkan syarat tambahan kepada sebarang pelan pembangunan dirujuk terlebih dulu kepada jabatan mufti untuk mendapatkan arah kiblat yang tepat sebelum kerja pembinaan dijalankan.

“Langkah ini bertujuan mencegah kesilapan dalam menentukan arah kiblat. Dalam hal ini, PBT akan merujuk kepada Jabatan Mufti untuk mendapatkan arah kiblat yang tepat. Kita tidak mewajibkan pembinaan bangunan menghadap kiblat, memadai surau atau ruang solat mempunyai arah kiblat yang betul.

“Ia meliputi bangunan perumahan, pejabat, kilang, kompleks beli belah, stesen minyak, hotel, hospital dan pelbagai lagi. Namun bangunan masjid dan surau keseluruhannya perlu menghadap kiblat,” katanya.

Beliau menegaskan langkah itu mendapat sambutan baik dan kontraktor sendiri yang memahami keperluan itu, malah ada kontraktor yang mengunjungi pejabat mufti dengan membawa pelan bangunan untuk dirujuk bagi mendapatkan arah kiblat yang tepat.

Rizal berkata, Selangor juga mengambil inisiatif membuat ketetapan supaya semua tanah perkuburan di seluruh negeri mempunyai replika tanda arah kiblat bagi memudahkan urusan penggalian kubur.

“Dengan adanya replika itu, ia memudahkan kerja penggali kubur dan memastikan tidak timbul lagi sebarang kekeliruan mengenai arah kiblat.

“Bagi memudahkan orang ramai, jabatan mufti melancarkan permohonan menentukan arah kiblat secara online yang boleh didapati di laman web http://www.muftiselangor.gov.my. Maklum balas yang diterima amat menggalakkan dan sehingga September lalu, 45 permohonan diterima.

“Khidmat diberikan secara percuma dan ia dilakukan dalam tempoh tidak lebih 12 hari dari tarikh permohonan diterima. Ia bertujuan memberikan kemudahan kepada orang ramai,” katanya sambil setakat ini tiada aduan diterima mengenai arah kiblat salah di Selangor.

Beliau berkata, pihaknya selalu menerima permohonan daripada ahli jawatankuasa masjid dan surau yang meminta mereka menyemak semula arah kiblat dan selepas mendapatkan arah yang tepat, jemaah akan mengikut arah baru dengan sekadar mengubah permaidani atau sejadah.

INFO: Cara mengukur arah kiblat

  • Hanya boleh menggunakan kaedah matahari terbenam pada 28 Mei jam 5.16 petang dan 16 Julai jam 5.28 petang setiap tahun
  • Dirikan objek lurus seperti tiang di tanah lapang dan rata
  • Pastikan ia tegak dan lurus. Bagi menyemak ketegakan tiang, letakkan tali yang diikat pemberat pada hujung tiang
  • Tempat yang dipilih tidak terlindung sinaran matahari
  • Semakan perlu dibuat tepat mengikut waktu yang ditetapkan Sirim seperti waktu televisyen dan radio. Oleh kerana fenomena itu berlaku pada waktu petang di Malaysia, bayang tiang akan jatuh ke arah timur. Dengan itu, arah kiblat ialah yang menghadap barat.

Posted in Klinik Agama | 2 Comments »

Hukuman abai zakat

Posted by epondok di April 14, 2015

Bersama HAMIZUL ABDUL HAMID

ADA orang kaya yang enggan mengeluarkan zakat dan mereka tetap enggan walaupun telah diberikan nasihat. Maka, apakah caranya untuk melentur hati mereka agar tunduk dan patuh kepada perintah dan hukum zakat ini? Mohon perkongsian dengan ustaz, terima kasih.

JAWAPAN

Terima kasih kembali kerana sudi membawakan pertanyaan seperti ini. Sesungguhnya tidak dapat dinafikan, memang sepanjang zaman ada sahaja manusia yang diberikan kekayaan oleh Allah SWT tetapi mereka sebaliknya lupa daratan dan menjadi manusia pengingkar perintah Tuhan

Jika dirujuk pada zaman dahulu, Qarun misalnya yang hidup pada zaman Nabi Musa as, pernah menjadi manusia kaya raya yang mengingkari perintah Allah SWT. Apabila dia diperintahkan untuk memberikan sebahagian kecil hartanya sebagai sedekah atau zakat kepada kaumnya yang memerlukan, Qarun malah menolak arahan tersebut dengan keangkuhan.

Qarun berkata dengan sombong: (Sesungguhnya) aku diberikan harta kekayaan ini hanyalah disebabkan pengetahuan dan kepandaian yang ada padaku. (al-Qasas: 78)

Harus diingat, pada zaman dahulu Allah SWT tidak menangguhkan penyeksaan bagi kalangan yang zalim dan mendustakan agama. Sekelip mata sahaja, Allah SWT menghukum Qarun, dia mati dibenam ke dalam perut bumi bersama harta kekayaannya: Lalu Kami (Allah) timbuskan dia bersama-sama dengan istananya di dalam tanah, maka tidaklah dia mendapat sebarang golongan yang boleh menolongnya daripada azab Allah dan dia pula tidak dapat menolong dirinya sendiri. (al-Qasas: 81)

Hal seperti ini tidak berlaku bagi umat Islam akhir zaman. Atas belas ihsan Allah SWT, jarang yang dihukum di dunia melainkan Allah SWT menangguhkan pembalasan itu hingga tibanya hari pembalasan nanti (selepas kiamat). Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah menangguhkan (azab) kepada orang zalim. Maka bila Dia mengazabnya, maka Dia tidak akan melepaskannya.” (riwayat Imam Tirmizi dan Ibnu Majah)

Sebab itulah, ada orang yang terus lalai dengan nikmat ini, sehingga mereka alpa dan berterusan melakukan dosa. Walhal Allah SWT mengingatkan: Dan janganlah sekali-kali kamu mengira, bahawa Allah lalai daripada apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. (Ibrahim: 42)

Maka, atas jalan menyedarkan manusia agar tidak kekal berdosa, al-Quran dan hadis banyak sekali memaparkan perihal hukuman dan seksaan bagi kalangan yang ingkar dan pendosa di dunia, termasuklah mereka yang melalaikan kewajipan zakat dalam kehidupannya. Mungkin sekiranya kita memberikan amaran seperti ini, akan timbul ketakutan di hati mereka yang selama ini lalai dalam agamanya.

Misalnya, Allah SWT menyatakan: Dan (ingatlah) orang-orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak membelanjakannya pada jalan Allah (enggan berzakat), maka khabarkanlah kepada mereka dengan (balasan) azab seksa yang tidak terperi sakitnya. (Iaitu) pada hari dibakar emas perak (dan harta benda) itu dalam neraka jahanam, lalu diselar dengannya dahi mereka, dan rusuk mereka, serta belakang mereka (sambil dikatakan kepada mereka): Inilah apa yang telah kamu simpan untuk diri kamu sendiri, oleh itu rasalah (azab dari) apa yang kamu simpan itu. (at-Taubah: 34-35)

Pada juzuk yang lain Allah SWT mengingatkan lagi dengan firman-Nya: Dan jangan sekali-kali orang-orang yang bakhil dengan harta benda yang telah dikurniakan Allah kepada mereka daripada kemurahan-Nya – menyangka bahawa keadaan bakhilnya itu baik bagi mereka. Bahkan ia adalah buruk bagi mereka. Mereka akan dikalongkan (diseksa) dengan apa yang mereka bakhilkan itu pada hari kiamat kelak. Dan bagi Allah jualah hak milik segala warisan (isi) langit dan bumi. Dan (ingatlah), Allah Maha Mengetahui dengan mendalam akan segala yang kamu kerjakan. (Ali Imran: 180)

Belitan ular jantan

Sementara itu, dalam hadis-hadis, Nabi Muhammad SAW menyatakan: Siapa yang dikurniakan oleh Allah kekayaan tetapi tidak mengeluarkan zakatnya, maka pada hari kiamat ia akan didatangi seekor ular jantan gondol (yang botak), yang sangat berbisa dan sangat menakutkan dengan dua bintik di atas kedua matanya, lalu melilit dan mematuk lehernya sambil berteriak (kepadanya): Aku adalah kekayaanmu, aku adalah perhiasanmu, yang kamu simpankan dahulu. Lalu Nabi SAW membaca ayat al-Quran, daripada surah Ali Imran, ayat 180 di atas. (riwayat Imam Bukhari daripada Abu Hurairah r.a)

Imam Muslim pula menyatakan di dalam sebuah hadis, daripada Jabir bin ‘Abdullah r.a: Tidak seorang pun pemilik unta, pemilik lembu atau pemilik kambing yang tidak membayar haknya (zakat), melainkan nanti di hari kiamat dia (akan) dibaringkan pada suatu tanah datar, lalu diinjak-injak oleh ternak dengan kukunya dan ditanduk dengan tanduknya.

Sebenarnya, masih ada lagi ayat-ayat al-Quran dan hadis daripada Nabi Muhammad SAW yang memperingatkan manusia tentang akibat di akhirat jika manusia mengabaikan zakat. Hanya tinggal lagi, sejauh manakah kita sebagai manusia yang berusaha untuk menggali dan mengambil pengajaran yang hakiki daripadanya.

Ibarat kata pepatah, masakan sagu bisa dimakan, jika ruyung tidak dipecahkan. Kitalah yang wajib membaca dan memahami amaran Allah SWT dan Rasulullah SAW itu.

Taubatlah penzalim

BAGAIMANAPUN, saya berpesan kepada diri saya sendiri dan semua pembaca budiman, seandainya kita mengetahui ada dalam kalangan kaum kerabat, sahabat handai dan jiran taulan kita yang dengan sengaja mengabaikan kewajipan zakat, agar menasihati mereka supaya bertaubat dan segera menunaikan zakat. Ini kerana, kita sama sekali ditegah daripada mendiamkan diri apabila mengetahui sesuatu kemungkaran berlaku tanpa ada usaha mencegahnya.

Nabi Muhammad SAW mengingatkan, yang mana mafhumnya, hendaklah kita berusaha mencegah kemungkaran, sama ada dengan tangan (kekuasaan), lisan (nasihat peringatan) mahu pun hati, mengikut kadar kemampuan iman kita. (riwayat Imam Muslim)

Ini kerana, andai kita membiarkan orang yang zalim terus berlaku zalim di atas dunia ini, maka khuatir kelak apabila Allah SWT menurunkan azabnya walaupun sedikit, maka kita dan orang-orang yang tidak berdosa juga turut menerima tempiasnya.

Nabi Muhammad SAW membuat perumpamaan, andai perbuatan jahat tidak dicegah maka samalah seperti dua kelompok manusia di dalam sebuah kapal. Apabila golongan di perut kapal mahu mengambil air, maka mereka pun mahu menebuk lubang di bawah kapal agar mudah mendapat air. Jika golongan di atas tidak mencegahnya, maka semuanya akan mati kelemasan (rujuk riwayat Imam Bukhari)

Sesungguhnya, bunga-bunga azab yang bakal ditimpakan di dunia jika orang-orang sudah mulai meninggalkan kewajipan zakat, disebutkan di dalam hadis, antaranya: “Golongan yang tidak mengeluarkan zakat, akan Allah timpakan kepada mereka kelaparan dan kemarau panjang.” (riwayat Imam at-Thabrani)

Sementara di kesempatan lain Nabi SAW menyatakan: “Bila mereka tidak mengeluarkan zakat, bererti mereka menghambat hujan turun. Seandainya binatang tidak ada, pastilah mereka tidak akan diberi hujan.” (riwayat Ibnu Majah dan Imam Baihaqi)

Berilah peringatan seperti ini kepada mereka, moga-moga timbul ketakutan di hati mereka dan menundukkan diri mereka dan juga kita kepada hukum-hakam Allah SWT, Tuhan yang telah menjadikan kita semua. Wallahua’lam

 

Posted in Klinik Agama | Leave a Comment »

Pengenalan Hukum Hudud

Posted by epondok di Mac 22, 2015

SIRI AN-NAIM (28)  

Disusun oleh :
Haji Daud B. Haji Muhammad,
Ketua Penyelia Agama, Kelantan.
Terbitan : Jabatan Hal Ehwal Ugama Islam Kelantan.

  بسم الله الرحمن الرحيم

HUKUMAN SEBAT DALAM ISLAM

Anggapan setengah masyarakat hari ini terhadap hukuman sebat yang terkandung dalam hukum dan perundangan Islam telah dipengaruhi oleh keadaan hukuman sebat yang dilaksanakan di penjara-penjara sekarang. Lebih-lebih lagi dari segi alat pemukul (rotan) cara-cara pukulan dan kesakitan yang dialami oleh penerimanya dan berbagai-bagai lagi.             Dalam risalah yang kecil ini dijelaskan secara ringkas tentang hukuman sebat sebagaimana yang dikehendaki oleh ugama Islam terutamanya yang berhubung dengan alat sebat, cara-caranya dan anggota-anggota yang boleh dipukul (sebat).

Hukuman sebat yang dikenakan sebagai siksaan bagi kesalahan jenayah yang menyentuh maruah, akal dan kehormatan :

واما الجلد فجعله عقوبة الجناية على الأعراض ، وعلى العقول ، وعلى الابضاع

(Mengikut Istilah Fuqaha’)  Ianya bertujuan diantara lainnya. :

1. Supaya sesiapa yang menerima hukuman itu atau melihatnya akan menjauhi jenayah itu sejauh-jauhnya.

2. Membersihkan masyarakat dari perbuatan tabiat yang keji dan hina.

3. Mengamankan masyarakat dari bahaya dan ancaman penjenayah

4. Untuk menjadi contoh teladan yang paling berguna untuk mengatasi perbuatan-perbuatan jenayah.

HUKUMAN SEBAT :

Hukuman sebat itu terbahagi kepada dua bahagian :

1. Sebat dalam masalah hudud iaitu siksaan yang telah ditetapkan oleh Allah yang wajib dilaksanakan sebagai menunaikan hak dan perintah Allah Subhanahu wataala

.2. Sebat dalam masalah Ta’zir iaitu kesalahan-kesalahan yang dikenakan dengan satu atau lebih daripada siksaan-siksaan ta’zir, selain daripada siksaan hudud, qisas, diat dan kafarat, dan erti ta’zir itu ialah denda yang menjadi pengajaran.Syarak tidak menetapkan sesuatu siksaan atau hukuman tertentu bagi kesalahan Ta’zir dan cukup serta memadai dengan menetapkan kumpulan hukuman dari serendah-rendahnya kepada seberat-beratnya  dan sesudah itu diserahkan kepada pihak pemerintah untuk memilih dan menentukan mana-mana hukum-hukum yang sesuai mengikut suasana dan keadaan masalah itu sendiri.

JENIS-JENIS KESALAHAN  HUDUD.

Jenis-jenis kesalahan hudud yang telah ditetapkan hukuman sebat ialah :

1. ZINA.

Firman Allah Taala :

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ

Maksudnya : Perempuan yang berzina dan lelaki yang berzina, hendaklah kamu sebat tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali sebat. (Surah An-Nur : 2)

Yang dimaksudkan dengan penzina perempuan dan penzina lelaki yang dikenakan hukuman sebat seratus kali itu ialah khusus untuk penzina yang belum kahwin

(Ghaira Muhsin) Ertinya yang belum merasai persetubuhan halal, iaitu dengan cara berkahwin, adapun penzina yang telah berkahwin (Muhsin) hukumnya ialah rejam. Ini adalah berdasarkan kepada hadis berikut :

عن أبي هريرة قال : اتى رجل رسول الله (ص) وهو في المسجد فناداه فقال يارسول الله اني زنيت فاعرض عنه حتى ردد عليه أربع مرات فلما شهد على نفسه أربع شهادات دعاه النبي (ص) فقال : ابك جنون ؟قال : لا قال : فهل أحصنت ؟ قال نعم. فقال النبي (ص) اذهبوا فارجموه .

Maksudnya : Seorang lelaki telah datang menemui Rasulullah SAW. semasa baginda berada di dalam masjid lalu beliau memanggil Rasulullah seraya berkata : Wahai Rasulullah sesungguhnya aku telah melakukan perbuatan zina, maka Rasulullah berpaling daripadanya sehingga diulang pengakuannya sebanyak empat kali. Maka apabila lelaki berkenaan telah membuat pengakuan ke atas dirinya sebanyak empat kali Rasulullah SAW. pun memanggilnya lalu bersabda : Adakah engkau gila ? Jawab lelaki itu : Tidak. Nabi bersabda lagi : Adakah engkau telah kahwin ? Jawab lelaki itu : Ya. Maka Nabi bersabda : Bawalah dia dan jalankan hukuman rejam. (Muttafaq ‘Alaih)

2. QAZAF (MENUDUH ZINA)

Firman Allah : وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً

Maksudnya: Orang-orang yang melemparkan tuduhan (zina) kepada perempuan yang terpelihara kehormatannya, kemudian mereka tidak membawakan empat orang saksi, maka sebatlah mereka delapan puluh kali sebat. (Surah An-Nur : 4)

Mengikut kaedah dalam perundangan Islam bahawa sesiapa yang menuduh seseorang dengan apa jua perbuatan yang haram, tertanggung ke atasnya (wajib) membuktikan kebenarannya. Dan jika gagal atau enggan hendaklah dikenakan siksaan. Melemparkan tuduhan zina ke atas seseorang adalah perbuatan yang menyentuh maruah dan kehormatan seseorang. Sangat berat untuk ditanggung oleh mana-mana orang yang tidak bersalah. Sangat banyak akibat yang timbul dari sesuatu tuduhan zina yang melulu ke atas seseorang. Perbuatan itu akan melahirkan kemarahan, persengketaan serta meruntuhkan rumahtangga dan masyarakat. Anak-anak yang lahir dari seseorang yang tertuduh zina akan menjadi mangsa. Kerukunan dan kebahagiaan suami isteri akan roboh dan hancur berkecai.Oleh itu amat wajar orang yang membuat tuduhan palsu itu dihukum sebat dengan lapan puluh kali sebat.

مدمن الخمر كعابد وثن

Ertinya : Orang yang ketagihan arak itu adalah seperti penyembah berhala. Oleh kerana minum arak itu adalah dari perbuatan dan pekerjaan syaitan yang amat keji maka Rasulullah SAW telah menghukum ke atas peminum arak dengan empat puluh kali sebat sama ada peminum itu mabuk atau pun tidak.

KESALAHAN TA’ZIR

Firman Allah :وَاللاَّتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ

MAKSUDNYA : Dan perempuan-perempuan yang kamu bimbang melakukan perbuatan derhaka (nusyuz) hendaklah kamu menasihati mereka, dan (jika mereka berdegil) pulaukanlah mereka di tempat tidur, dan (kalau juga mereka masih degil) pukulah mereka (dengan pukulan ringan yang bertujuan mengajarnya). (Surah An-Nisa’ : 34)

Ayat tersebut merupakan hujjah dan dalil bagi ahli-ahli perundangan Islam bahawa hukuman sebat boleh dikenakan ke atas kesalahan-kesalahn ta’zir dan sebat merupakan hukuman utama dalam kesalahan-kesalahan ta’zir yang serius untuk memberi pengajaran yang tepat dan berkesan kepada penjenayah-penjenayah yang merbahaya yang sudah sebati dengan kesalahan-kesalahan itu. Keistimewaan hukuman ini ianya tidak membebankan pihak berkuasa (kerajaan) dan tidak menghalang pesalah sesudah menjalani hukuman dari berusaha menjalankan pekerjaan dan sebagainya dan tidak pula terpaksa meninggal dan membiarkan ahli keluarganya menempuh berbagai-bagi kesusahan dan keperitan hidup mencari nafkah dan sebagainya seperti mana dalam kes hukuman penjara kerana hukuman sebat dilaksanakan serta-merta setelah disabitkan kesalahannya dan sesudah itu dibebaskannya untuk membolehkan meraka menjalani kehidupan biasa bersama-sama keluarganya.

KADAR HUKUMAN SEBAT

Ulamak Syafie berpendapat bahawa hukuman sebat dalam kesalahan ta’zir tidak boleh melebihi sekurang-kurang hukuman hudud. Ertinya hukuman ta’zir dengan rotan “Sebat” ke atas seseorang pesalah hendaklah kurang daripada empat puluh kali sebat.

Sabda : من بلغ حدا في غير حد فهو من المعتدين

Maksudnya : Sesiapa yang melebihi had “Sekatan” dalam kesalahan bukan hudud maka ianya termasuk bersama-sama golongan orang yang melampaui batas.

ALAT SEBAT

Alat sebat tidaklah dalam satu jenis dan satu bentuk sahaja sebat bolehlah dijalankan dengan menggunakan rotan atau pelepah tamar atau ranting kayu ataupun hujung kain bahawa untuk menyebat peminum arak maka sudah cukup dan tercapai maksudnya dengan menggunakan hujung kain atau pelepah tamar.Sekiranya digunakan rotan dan sebagainya maka itu hendaklah sederhana ukurannya jangan terlalu muda atau terlalu tua dan tidak yang berbuku-buku atau pecah-pecah atau seumpamanya supaya tidak boleh mencederakan atau menyebabkan luka parah ke atas pesalah. Ini kerana tujuan yang sebenar hukuman sebat bukan hendak membinasakan pesalah tetapi bertujuan mencegah dan melarang serta memberi pengajaran kepadanya.

روى مالك عن زيد بن أسلم أن رجلا اعترف على نفسه بالزنى على عهد رسول الله (ص) ، فدعاله رسول الله (ص) بسوط ، فاتي بسوط مكسور ، فقال : “فوق هذا ” فاتي جديد لم تقع ثمرته ، فقال : “دون هذا” فاتي بسوط قد ركب به ولان فأمر به رسول الله (ص) فجلد ..

Maksudnya : Diriwayatkan oleh Malik dari Zaid bin Aslam katanya, seorang lelaki telah mengaku berzina di zaman Rasulullah SAW maka Rasulullah meminta sebatang tongkat untuk disebat lelaki itu, apabila tongkat yang dikehendaki dikemukakan kepada baginda Rasulullah SAW. didapati tongkat itu pecah-pecah, lalu baginda minta tongkat yang lain, apabila tongkat yang kedua dibawa kepadanya didapati pula tongkat itu daripada dahan kayu yang baru dipotong, Rasulullah SAW menolaknya lagi dan meminta tongkat yang sangat sederhana yang tidak keras, Rasulullah SAW menerimanya dan memerintahkan supaya disebat dengannya.  

CARA MELAKSANAKAN SEBAT

Ketika melaksanakan hukuman sebat hendaklah dengan cara sebatan yang sederhana. Orang yang menyebat tidak boleh mengangkat tangannya sehingga ke paras kepalanya atau dengan lain perkatan ia tidak boleh mengangkat tinggi tangannya sehingga nampak putih ketiaknya dan disebat berturut-turut supaya sampai kepada matlamat dan tujuannya.

ANGGOTA-ANGGOTA YANG BOLEH DIPUKUL

Pukulan hendaklah diatur supaya kena merata-merata anggota tubuh badan pesalah itu kecuali muka, kepala dan dada ditegah sama sekali  memukulnya dan tidaklah boleh disebat hanya setempat sahaja.

KEADAAN PESALAH

Ketika menjalani hukuman, pesalah lelaki dikehendaki berdiri manakala pesalah perempuan dalam keadaan duduk dan tidak boleh dilucutkan pakaian biasa mereka yang menutup aurat seperti baju, seluar, kain sarung dan sebagainya. Dikecualikan pakaian-pakain yang tebal atau beralas yang boleh menghalang dari rasa sakit yang menjadi matlamat utama dan terpenting dalam hukuman sebat dan jika mereka berpakaian demikian “tebal” hendaklah diganti dengan pakaian yang nipis “sederhana”.

PESALAH MENGANDUNG

Dan jika pesalah mengandung hendaklah ditunggu sehingga melahirkan anak sama ada anak kandungan itu dari perbuatan zina atau tidak dan sembuh dari sakit beranak serta suci dari darah nifas dan tenaganya sudah pulih. Ini berdasarkan kepada hadis berikut :

عن علي رضي الله عنه أنه قال : أن امة لرسول الله (ص) زنت فامرني أن أجلدها فاذا هي حديته عهد بنفاس فخشيت ان انا جلدتها ان اقتلها فذكرت ذلك لرسول الله (ص) فقال : دعها حتى ينقطع عنها الدم ثم أقم عليها الحد

Maksudnya : Dari Sayyidina Ali RA bahawa beliau berkata : Bahawa seorang Amah ‘Hamba’ Rasulullah SAW telah berzina maka Rasulullah SAW telah mengarahkan kepadaku supaya aku jalankan hukuman sebat ke atasnya sedangkan ianya masih baru melahirkan anak, maka aku bimbang jika aku jalankan sebat ke atasnya akan membunuhnya, lalu aku beritahu keadaan itu kepada Rasulullah SAW , maka sabda Rasulullah “Biarlah dahulu dia sehingga sembuh dari sakit beranaknya kemudian boleh sesudah itu kamu jalankan hukuman ke atasnya”.

PESALAH SAKIT

Jika didapati pesalah dalam keadaan sakit dan penyakitnya ada harapan untuk sembuh maka hendaklah ditunggu sehingga dia betul-betul sembuh kerana jika dijalankan juga semasa pesalah itu sedang sakit akan bertambah berat penyakitnya dan mungkin boleh membinasakannya. Sebaliknya jika penyakitnya tidak ada harapan langsung untuk sembuh bolehlah dijalankan hukuman sebat serta-merta tanpa menunggu dan membuang masa lagi tetapi dengan satu syarat, bahawa rotan yang digunakan tidak akan membinasakannya. Oleh itu hendaklah menggunakan ranting kayu atau rotan yang kecil atau pun pelepah tamar yang kecil dan jika ukuran ini juga dibimbang akan membawa maut kepadanya maka bolehlah dikumpulkan seratus ranting kayu atau seumpamanya dan diikat dalam satu ikatan dan disebat dengannya satu kali. Cara begini pernah disuruh oleh Rasulullah SAW supaya dilakukan ke atas seseorang lelaki yang berzina yang sakit berat tidak mempunyai harapan untuk sembuh.

روى من أن رسول الله (ص) امر بضرب رجل مرض حتى صنى ضربة واحدة شمراخ لانه زنى

Maksudnya : Diriwayatkan bahawa Rasulullah SAW. pernah menyuruh supaya dijalankan hukuman sebat ke atas seorang lelaki yang sedang sakit merana dengan satu pukulan dengan seratus mayang tamar yang diikat “seikat” kerana lelaki itu telah melakukan perbuatan zina.

Ini kerana pesalah yang sakit merana tidak mempunyai harapan untuk sembuh sama ada dibiarkan tanpa dijalankan hukuman sebat kerana penyakitnya atau dilaksanakan sepenuhnya, maka sudah pasti jika dilaksanakan sepenuhnya akan membawa maut kepadanya dan di dalam keadaan begini diambil jalan, tengah iaitu disebat satu kali dengan seratus mayang tamar seumpamanya yang diikat dengan satu ikatan sahaja.

Firman Allah : وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِهِ وَلاَ تَحْنَثْ

Maksudnya : Dan ambillah dengan tanganmu seikat jerami kemudian pukulah dengannya dan janganlah engkau menyalahi sumpahmu itu. (Surah Sod : 44)

Dengan cara yang demikian adalah lebih baik dari biarkan tanpa menjalani hukuman atau dibunuh pesalah yang sakit yang tidak sampai kepada hukuman yang wajib dibunuh.

PELAKSANAAN HUKUMAN SEBAT DIHENTI ?

Hukuman sebat dihenti dan tidak boleh dilaksanakan apabila timbul dan berbangkit sesuatu yang boleh menggugurkan hukuman hudud iaitu :

1.       Apabila pesalah menarik balik pengakuannya sebelum dilaksanakan hukuman jika hukuman sebat kerana zina dijatuhkan berikutan pengakuannya samada pengakuannya itu dibuat secara langsung atau tidak.

2.       Apabila saksi-saksi mengubah pendirian dan menarik balik kesaksian mereka sebelum dilaksanakan hukuman samada secara beramai-ramai atau sebahagian darinya sekiranya bilangan saksi yang tinggal kurang dari empat orang.

 

MASA DAN TEMPAT MELAKSANAKAN HUKUMANT

idak boleh dijalankan hukuman sebat dalam masa dan keadaan cuaca yang sangat panas atau terlalu sejuk jika dibimbang boleh membawa kebinasaan kepada pesalah dan bagi kesalahan hudud adalah dikehendaki supaya dijalankan hukuman sebat di hadapan orang-orang mukmin.

Firman Allah :وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Maksudnya : Dan hendaklah pelaksaan hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. (Surah An-Nur : 2)

Yang dimaksudkan dengan sekumpulan itu mengikut pendapat Mujahid “Seorang lelaki dan ke atasnya sehingga sampai kepada seribu orang.Manakala Ibnu Zaid pula berkata “Bahawa tak dapat tidak mesti dihadiri sekurang-kurangnya oleh empat orang dari kalangan orang-orang yang beriman sebagai qias dengan empat orang saksi dalam kes zina. Dan pendapat Ibnu Zaid ini adalah selaras dan sama dengan pendapat Imam Malik dan Imam Syafie.

Akhirnya dengan terlaksana hukuman sebat tercapailah kebaikan dan kepentingan umum (orang ramai) kerana Islam memandang kebaikan dan muslahat orang ramai itu lebih utama dari maslahat perseorangan dan dengan itu juga terhindarlah kerosakan , keruntuhan moral dan sebagainya dan seterusnya tercapailah kemuliaan dan kebahagian serta sentiasa mendapat Inayah, rahmat dan pertolongan Allah.

Amin.Sekian

Posted in Klinik Agama | 1 Comment »

Jangan buang pahala kerana telefon bimbit

Posted by epondok di November 13, 2014

TELEFON bimbit ibarat menjadi kemestian dalam hidup masa kini. Rasanya tidak sempurna hidup tanpa alat komunikasi itu. Lebih-lebih lagi dengan gajet pintar (smart phone) banyak gunanya. Jika sesat jalan, boleh menggunakan google earth bagi mencari destinasi tujuan.

Malah di Masjidilharam, orang Malaysia kini boleh mendengar khutbah dalam bahasa Melayu menggunakan smart phone. Ia hasil inisiatif Kerajaan Arab Saudi yang menyediakan penterjemah bagi kemudahan ratusan ribu umat Islam dari rantau ASEAN mengikuti khutbah secara langsung yang disampaikan dalam bahasa arab.

Demikian hebatnya teknologi membantu kita dalam memudahkan lagi pelaksanaan ibadat harian. Bagaimanapun, terlalu obses dengan gajet tersebut secara tidak disedari boleh menyebabkan pahala ibadat kita menjadi sia-sia terutama ketika solat Jumaat.

Solat Jumaat adalah masa di mana kaum muslimin berhimpun di masjid tanpa mengira pangkat, kedudukan atau bangsa. Khutbah pula adalah satu daripada lima syarat sah solat Jumaat. Justeru, ia adalah wasilah terbaik untuk menyampai dan menerima nasihat, peringatan serta mesej-mesej ukhrawi dan duniawi kepada masyarakat Islam.

Sebab itu, Rasulullah SAW menyuruh para jemaah supaya diam dan khusyuk mendengar khutbah. Sabda nabi SAW yang bermaksud: Jika engkau mengatakan kepada sahabatmu pada hari Jumaat ‘diam’ padahal imam pada ketika itu sedang berkhutbah, maka sesungguhnya engkau benar-benar berkata sia-sia. (riwayat Bukhari dan Muslim)

Dapatlah difahami daripada hadis ini bahawa apa pun jenis kata-kata mahupun perbualan adalah dilarang sama sekali ketika khutbah Jumaat sedang dibacakan. Ini kerana jika kata-kata seorang jemaah yang menyuruh seorang jemaah lain supaya diam dan mendengar khutbah itu pun dikategorikan sebagai sia-sia, sedangkan perbuatan itu merupakan satu suruhan ke arah kebaikan, apatah lagi kata-kata biasa atau perbualan kosong semata-mata.

Malangnya, masih ada dalam kalangan umat Islam terutama remaja yang tidak boleh berenggang dengan telefon bimbit mereka. Sehinggakan semasa khatib berkhutbah pun, ada yang melayari internet, chatting dan bermain game.

Perbuatan sebegini tidak patut berlaku kerana ia menjejaskan kesempurnaan solat Jumaat. Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya: Sesiapa yang berwuduk dan menyempurnakan wuduknya, kemudian dia (pergi ke masjid) untuk menunaikan solat Jumaat, lalu mendengar dan tidak bercakap (ketika khutbah disampaikan), maka diampuni dosa-dosanya yang ada di antara hari Jumaat itu dan hari Jumaat berikutnya dan ditambah tiga hari lagi. Dan sesiapa yang bermain-main dengan anak-anak batu (ketika khutbah), maka dia telah berbuat sia-sia. (riwayat Muslim)

Adapun perbuatan menggunakan telefon bimbit ketika khatib membaca khutbah Jumaat boleh diqiaskan kepada maksud hadis di atas. Dalam hadis ini, Rasulullah SAW menegaskan sesiapa yang bermain-main dengan anak-anak batu ketika khutbah Jumaat itu telah melakukan suatu perbuatan yang sia-sia.

Maksud ‘sia-sia’ dalam hadis ini adalah bertentangan dengan sunnah, adab dan mengakibatkan rugi pahala dan kelebihan-kelebihan solat Jumaat walaupun sembahyangnya masih dikira sah.

Menurut ulama, larangan itu tidak hanya terbatas terhadap bermain dengan anak batu sahaja tetapi menyeluruh terhadap semua perbuatan yang boleh menjejaskan tumpuan terhadap khutbah Jumaat. Jika dinilai dan diteliti, perbuatan menggunakan telefon bimbit ketika khutbah dibacakan adalah lebih buruk daripada perbuatan bermain dengan anak batu kerana perbuatan seperti bermain game, melayari halaman internet, berkomunikasi melalui halaman rangkaian sosial dan sebagainya itu adalah sangat jelas lebih menghilangkan kekhusyukkan dan menjejaskan tumpuan.

Akan tetapi tidak makruh ke atas orang yang mendengar khutbah Jumaat itu berkata-kata jika berlaku darurat misalnya kerana hendak menyelamatkan orang buta yang hampir jatuh ke dalam parit atau ternampak binatang berbisa seperti kala jengking atau ular menghampiri seseorang. Maka dalam hal sedemikian, tidaklah dilarang orang yang mendengar khutbah Jumaat itu berkata-kata, bahkan wajib baginya melakukan demikian. Akan tetapi lebih baik (sunat) baginya untuk menggunakan isyarat sahaja jika dia mampu mengelakkan daripada berkata-kata.

Marilah memastikan solat Jumaat kita terpelihara daripada sebarang hal yang lagha agar kita beroleh keampunan Allah seperti yang dijanjikan dalam hadis di atas.

Posted in Klinik Agama | Leave a Comment »