Pusat Pembangunan Pondok Berhad

Pondok Studies Development Centre

Archive for 9 Julai 2013

10 Keutamaan orang berpuasa

Posted by epondok di Julai 9, 2013

Oleh asshafiee

Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki mengatakan orang yang berpuasa mempunyai 10 keutamaan yang diberikan Allah, di antaranya ialah :

Pertama, Allah memberikan keistimewaan kepada umat yang berpuasa dengan menyediakan satu pintu khusus di surga yang dinamai Al Rayyan. Pintu surga Al Rayyan ini hanya disediakan bagi umat yang berpuasa. Kata Nabi dalam satu haditsnya, pintu Rayyan hanya diperuntukkan bagi orang-orang berpuasa, bukan untuk lainnya. Bila pintu tersebut sudah dimasuki oleh seluruh rombongan ahli puasa Ramadhan, maka tak ada lagi yang boleh masuk ke dalamnya. (HR. Ahmad dan Bukhari-Muslim).

Kedua, Allah telah mengfungsikan puasa umat Nabi Muhammad saw sebagai benteng yang kokoh dari siksa api neraka sekaligus tirai penghalang dari godaan hawa nafsu. Dalam hal ini Rasul bersabda, “Puasa (Ramadhan) merupakan perisai dan benteng yang kokoh dari siksa api neraka.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi). Rasul menambahkan pula bahawa puasa yang berfungsi sebagai perisai itu layaknya perisai dalam kancah peperangan selama tidak dinodai oleh kedustaan dan pergunjingan. (HR. Ahmad, An Nasa`i, dan Ibnu Majah).

Ketiga, Allah memberikan keistimewaan kepada ahli puasa dengan menjadikan bau mulutnya itu lebih harum dari minyak misik. Sehingga Rasul bertutur demikian, “Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih semerbak di sisi Allah dari bau minyak misik.”

Keempat, Allah memberikan dua kebahagiaan bagi ahli puasa yaitu bahagia saat berbuka dan pada saat bertemu dengan Allah kelak. Orang yang berpuasa dalam santapan bukanya meluapkan rasa syukurnya dimana bersyukur termasuk salah satu ibadah dan dzikir. Syukur yang terungkap dalam kebahagiaan kerana telah diberi kemampuan oleh Allah untuk menyempurnakan puasa di hari tersebut sekaligus berbahagia atas janji pahala yang besar dari-Nya. “Orang yang berpuasa mempunyai dua kebahagiaan. Yaitu berbahagia kala berbuka dan kala bertemu Allah,” kata Rasul dalam hadits riwayat imam Muslim.

Kelima, puasa telah dijadikan oleh Allah sebagai medan untuk menempa kesehatan dan kesembuhan dari beragam penyakit. “Berpuasalah kalian, niscaya kalian akan sehat.” (HR. Ibnu Sunni dan Abu Nu`aim).

Abuya menegaskan bahawa rahasia kesehatan di balik ibadah puasa adalah bahawa puasa menempah tubuh kita untuk melumatkan racun-racun yang mengendap dalam tubuh dan mengosongkan materi-materi kotor lainnya dari dalam tubuh.

Menurut kerangka berpikir Abuya, puasa ialah fasilitas kesehatan bagi seorang hamba guna meningkatkan kadar ketaqwaan yang merupakan tujuan utama puasa itu sendiri. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Qs. Al Baqarah: 183).

Keenam, keutamaan berikutnya yang Allah berikan kepada ahli puasa adalah dengan menjauhkan wajahnya dari siksa api neraka. Matanya tak akan sampai melihat pawai arak-arakan neraka dalam bentuk apapun juga. Rasul yang mulia berkata demikian, “Barangsiapa berpuasa satu hari demi di jalan Allah, dijauhkan wajahnya dari api neraka sebanyak (jarak) tujuh puluh musim.” (HR. Ahmad, Bukhari-Muslim, dan Nasa`i).

Ketujuh, dalam Al Quran Allah berfirman, “Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.” (Qs. At Taubah: 112).

Sebagian ulama ahli tafsir menerangkan bahawa orang –orang yang melawat (As Saihuun) pada ayat tersebut adalah orang yang berpuasa sebab mereka melakukan lawatan (kunjungan) ke Allah. Makna lawatan, tegas Abuya, di sini adalah bahawa puasa merupakan penyebab mereka (orang yang berpuasa) bisa sampai kepada Allah. Lawatan ke Allah ditandai dengan meninggalkan seluruh kebiasaan yang selama ini dilakoni (makan, minum, mendatangi istri di siang hari) serta menahan diri dari rasa lapar dan dahaga.

Sembari mengutip Al Quran pula, Abuya mencoba menganalisa surah Az Zumar ayat 10: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” Kata Al Maliki, orang-orang yang bersabarlah maksudnya adalah orang yang berpuasa sebab puasa adalah nama lain dari sabar. Di saat berpuasalah, orang-orang yang bersabar (dalam beribadah puasa) memperoleh ganjaran dan pahala yang tak terhitung banyaknya dari Dzat Yang Maha Pemberi, Allah swt.

Kelapan, di saat puasa inilah Allah memberi keistemewaan dengan menjadikan segala aktifitas orang yang berpuasa sebagai ibadah dan ketaatan kepada-Nya. Kerananya, orang yang berpuasa dan ia meninggalkan ucapan yang tidak berguna (diam) adalah ibadah serta tidurnya dengan tujuan agar kuat dalam melaksanakan ketaatan di jalan-Nya juga ibadah. Dalam satu hadits riwayat Ibnu Mundih dinyatakan, “Diamnya orang yang berpuasa adalah tasbih, tidurnya merupakan ibadah, dan doanya akan dikabulkan, serta perbuatannya akan dilipatgandakan (pahalanya).”

Kesembilan, di antara cara yang Allah kenakan dalam memuliakan orang yang berpuasa, bahawa Allah menjadikan orang yang memberi makan berbuka puasa pahalanya sama persis dengan orang yang berpuasa itu sendiri meski dengan sepotong roti atau seteguk air. Dalam satu riwayat Nabi bertutur seseorang yang memberi makan orang yang puasa dari hasil yang halal, akan dimintakan ampunan oleh malaikat pada malam-malam Ramadhan…… meski hanya seteguk air. (Hr. Abu Ya`la).

Kesepuluh, orang yang berbuka puasa dengan berjamaah demi melihat keagungan puasa, maka para malaikat akan bershalawat (memintakan ampunan) baginya.

Sumber http://www.ustaznoramin.com/

Posted in Amalan Pilihan | Leave a Comment »

Santuni keluarga ikut cara nabi s.a.w

Posted by epondok di Julai 9, 2013

Oleh HASHIM AHMAD

MEMPERLAKUKAN isteri dengan baik merupakan perkara yang dianjurkan oleh syariat. Seorang suami wajib memperlakukan isterinya dengan baik serta banyak bersabar dan berlapang dada dalam menghadapinya. Apa lagi jika usia si isteri masih belia.

Hal itu berdasarkan sebuah hadis riwayat Aisyah berkata: “Demi Allah, saya melihat Rasulullah SAW berdiri di depan pintu kamarku sementara orang-orang Habsyah bermain-main tombak di masjid. Rasulullah menyitariku dengan selendangnya agar aku dapat menyaksikan permainan mereka dari balik telinga dan leher pundak baginda. Baginda tidak beranjak sehingga aku puas dan beranjak dari situ. Baginda memperlakukanku sebagaimana seorang gadis muda beliau yang masih senang permainan.” (riwayat al-Bukhari, Muslim, an-Nasai dan Ahmad)

Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: “Sesungguhnya orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap isterinya.” (riwayat at- Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Hibban)

Pada suatu ketika Aisyah ikut bersama Rasulullah SAW dalam sebuah lawatan. Aisyah berkata: “Pada waktu itu aku masih seorang gadis yang ramping. Baginda Rasulullah memerintahkan rombongan agar bergerak terlebih dahulu. Mereka pun berangkat mendahului kami. Kemudian baginda berkata kepadaku: “Ke marilah! sekarang kita berlumba lari.” Aku pun melayaninya dan ternyata aku dapat mengungguli baginda. Baginda SAW hanya diam saja atas keunggulanku tadi.”

Aisyah juga berkata: “Hingga dalam kesempatan lain, ketika aku sudah agak gemuk, aku ikut bersama baginda dalam sebuah lawatan. Baginda memerintah rombongan agar bergerak terlebih dahulu. Kemudian baginda menentangku berlumba kembali. Dan kali ini baginda pula dapat mengungguliku. Baginda tertawa seraya berkata: “Inilah penebus kekalahan yang lalu!” (riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad)

Pada kesempatan yang lain, Aisyah berkata: “Rasulullah SAW pernah berkata kepadaku: Aku tahu bila engkau senang padaku dan bila engkau marah padaku. Dari mana engkau mengetahuinya? tanya Aisyah.”

Rasulullah menjawab: “Jika engkau senang padaku maka engkau akan berkata: Tidak, demi Rabb Muhammad! Jika engkau marah padaku maka engkau akan berkata: Tidak, demi Rabb Ibrahim!

“Benar, yang aku hindari hanyalah menyebut namamu. Aisyah membuat pengakuan.” (riwayat al-Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Kesempurnaan iman

Antara bukti kesempurnaan iman adalah memberi nafkah kepada keluarga (anak dan isteri) dan tidak membiarkan mereka hingga terlantar tidak terurus. Hal itu merupakan kezaliman yang sangat besar.

Daripada Abdullah bin Amr, Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Cukuplah seseorang menuai dosa apabila ia menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggungannya (keluarganya).” (riwayat Abu Dawud dan Ahmad)

Jika si suami seorang yang kikir terhadap anak dan isterinya, maka si isteri boleh mengambil harta suaminya tanpa pengetahuannya, dengan syarat harus digunakan secara baik, bukan untuk menghambur-hamburkannya sebab hal itu adalah kezaliman.

Sayidatinna Aisyah meriwayatkan : “Hindun Ummu Mu’awiyah mengadu kepada Rasulullah SAW: Sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang suami yang kikir. Apakah saya boleh mengambil hartanya tanpa pengetahuannya? Rasulullah SAW menjawab: “Ambillah daripada hartanya untuk memenuhi keperluanmu dan keperluan anak-anakmu dengan cara yang makruf.” (riwayat al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasai, Ibnu Majah)

Beberapa orang yang tidak meneliti masalah ini dengan cermat berkata bahawa hadis ini bertentangan dengan sabda nabi yang bermaksud: Tunaikanlah amanah kepada orang yang mengamanahimu dan janganlah khianati orang yang mengkhianatimu. (riwayat Abu Dawud, at-Tirmidzi, ad-Darimi, al-Bukhari)

Mengambil harta suami tanpa izinnya merupakan satu perbuatan khianat. Hal itu telah dilarang berdasarkan nas al-Quran dan sunah. Tetapi apa yang dimaksud oleh Rasulullah SAW dalam hadis Hindun adalah tidak sebagaimana yang baginda maksud dalam hadis di atas.

Alim ulama telah menyebut barang siapa yang memiliki hak ditangan orang lain lalu ditahan oleh orang tersebut, maka ia boleh mengambil sesuatu daripada harta orang tersebut sebagai pengganti haknya yang ditahan.

Sebagaimana dimaklumi bahawa di rumah suami yang kikir tentunya tidak tersedia barang-barang berupa pakaian dan minuman) dan segala keperluan yang wajib disediakannya untuk anak dan isteri.

Rasulullah SAW telah memberi izin kepada Hindun untuk mengambil sekadar keperluannya dan anak-anaknya. Sementara hadis di atas (Tunaikanlah amanah…) maksudnya adalah tidak mengkhianati amanah setelah keperluannya dicukupi.

Adapun mengambil sekadar keperluan, hal itu memang diizinkan oleh syariat. Oleh sebab itu, hadis Hindun tersebut tidaklah termasuk perkara yang dilarang dalam hadis terdahulu.

Posted in Amalan Pilihan | Leave a Comment »